Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 Desember 2013
Cerpen Pengorbanan Cinta
Ini merupakan cerpen keempat yang dikirim oleh Islovefha, Tiga cerpen sebelumnya yaitu Ketemu Cinta di Pramuka, Cerita Cinta Berujung Duka dan Cinta yang Terpendam
Pengorbanan Cinta
oleh: Islovefha
‘Isfa’ itulah nama yang selalu ada di benak Adit. Adit sangat mencintai Isfa, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkannya. Isfa adalah adik kelasnya. Setiap hari dia selalu menemani Isfa dimanapun Isfa pergi, mereka sangat akrab. Di sisi lain, Isfa sangat mencintai Nico, teman sekelasnya Adit yang jago banget balap motor. Itulah yang menyebabkan Adit tidak pernah berani mengungkapkan isi hatinya itu.

“Dit, kamu hari ini sibuk gak? Aku mau minta tolong anterin aku ke Toko Buku gak?”, Tanya Isfa.
“umm..tentu. hari ini aku lagi gak sibuk kok”, jawab Adit.
“oh iya, aku lupa dit. Hari ini aku udah ada janji sama Nico, gimana kalau kita ke Toko Bukunya besok aja? Gak pa pa kan?!”, ucap Isfa. Hal itupun membuat hati Adit tambah sakit.
“oh iya gak pa pa kok”, jawab Adit.
“tu dia Nico dah jemput aku, aku pergi dulu ya?”, ucap Isfa sambil berlalu meninggalkan Adit sendiri. Adit hanya terdiam membisu melihat orang yang sangat disayanginya pergi dengan orang lain.
“fa, kamu gak pa pa nie jalan sama aku?”, Tanya Nico.
“umm..emang napa kok Tanya gitu?”, sahut Isfa balik Tanya.
“gini Fa, aku tu ngelihat kamu deket banget sama Adit. Kamu pacaran ya sama dia? Aku jadi gak enak gini malah ngajak kamu jalan. Maaf ya?”, ucap Nico.
“aku sama Adit tu dah kayak kakak-adik lagi. Kita gak pacaran kok, kamu tuch aneh-aneh aja.”, jawab Isfa sambil tersenyum.
“berarti kamu jomblo donk”, Tanya Nico.
“iya, emang napa?”, jawab Isfa (berharap ditembak Nico).
“umm..sama donk kaya aku.”, jawab Nico. Yach, harapan Isfa untuk ditembak Nico lenyap sudah. Dan Isfa pun jadi sedih.
“hari ini kita jadi ke Toko Buku kan?”, Tanya Adit.
“aku males ach dit, aku nitip aja ya kalau kamu kesana.”, jawab Isfa.
“lho kok gitu fa? Bukane kamu kemarin yang ngajak aku? Ada apa sich kok kamu sedih gitu kelihatannya?”, Tanya Adit.
“aku sedih banget Dit, kemarin aku tuch ngarep banget Nico nembak aku. Tapi nyatanya dia gak nembak aku Dit.”, jawab Isfa sambil nangis. Adit pun tak tega melihat orang yang dicintainya itu nangis. Lalu Adit pun menuruti keinginan Isfa untuk dibelikan buku saat itu.
“makasih ya Dit, kamu emang temen aku yang paling baik”, ucap Isfa.
“ea sama-sama Fa, kamu jangan sedih lagi ya? Mungkin emang kemarin saatnya belum tepat buat dia nembak kamu.”, jawab Adit.
“iya Dit, doain aku ya supaya bisa jadian sama Nico. Kamu kan tahu Dit, aku tuch cinta banget sama dia.”, ucap Isfa.
“pasti fa.”, jawab Adit sambil menahan rasa sakit hatinya. Hatinya benar-benar sakit sekali, tapi dia selalu menutupinya dari Isfa. Dia hanya pengen orang yang dicintainya bahagia, sekalipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.
“Nic, aku pengen ngomong sama kamu. Penting!”, ucap Adit pada Nico.
“ada apa Dit? Serius amet?”, Tanya Nico.
“gini Nic, aku kan dah lama sahabatan sama Isfa. Aku gak mau dia sedih Nic.”, jawab Adit.
“iya, terus hubungannya apa kok kamu malah ngomong gitu ama aku?”, Tanya Nico bingung.
“Isfa tuch suka sama kamu Nic, aku pengen kamu nembak dia ya? Dia itu gadis yang baik Nic, kamu pasti suka juga kan sama dia?”, jawab Adit.
“umm.. kamu gak tahu masalahnya Dit.”, sahut Nico.
“masalah apa sich Nic?”, Tanya Adit.
“kamu tahu kenapa aku gak nembak Isfa? Tu bukan karena aku gak suka sama dia atau apa. Tapi aku ngerasa aku gak pantes buat dia, aku gak akan bisa ngebahagiain dia kayak kamu Dit. Makanya aku gak pernah nembak dia. Dan aku malah penginnya kamu yang nembak dia. Karena bersamamu masa depannya akan lebih cerah dibanding dengan aku ini”, jawab Nico.
“maksudmu apa Nic? Isfa tuch sukanya sama kamu, bukan sama aku. Jadi kamu jangan bikin dia sedih gini donk. Toh kamu juga sayang kan sama dia?”, Tanya Adit.
“gini Dit, hidupku tuch gak lama lagi. Aku punya penyakit kanker otak, dan sudah stadium akhir. Aku gak akan bisa ngebahagiain Isfa Dit, aku mohon kamu jaga dia baik-baik ya? Aku sayang banget sama dia, tapi aku gak mungkin bisa bersama dengannya. Tolong ya, kamu jangan kasih tahu semua ini ke Isfa. Dan mulai saat ini aku akan menghindar dari dia. Karena aku gak pengen dia lihat aku sakit dan lihat aku pergi.”, jawab Nico.
“jadi? Iya Nic, aku pasti akan jaga Isfa dan buat Isfa bahagia Nic. Pasti!”, sambung Adit.
“makasih ya Dit”, sahut Nico.
“dit, aku hari ini mau kerumahnya Nico. Kamu mau ikut gak? Ikut yach.. please….”, ucap Isfa memohon.
“iya aku ikut”, jawab Adit.
“maaf non, Den Nico sudah pindah ke luar kota. Baru aja tadi pagi berangkatnya.”, ucap pembantunya Nico. “kok mendadak sekali ya bi? Bukannya dia kemarin ikut balap motor di deket sekolah Bi?”,Tanya Isfa.
“lho gimana tho non? Den Nico itu sudah dari kemarin di Rumah Sakit, dan tadi Nyonya sudah ngambil barang-barang Den Nico. Katanya sekeluarga mau pindah ke Bandung. Dan ini katanya Den Nico masih dirawat di Rumah Sakit di Bandung.”, jawab pembantunya Nico.
“apa? Gak mungkin bi, gak mungkin kan Dit?”, ucap Isfa tak percaya. Adit hanya diam, lalu mereka pergi ke Bandung untuk melihat keadaan Nico.
“tante, saya Isfa tan. Gimana keadannya Nico tante? Kok dia gak pernah cerita kalau dia sakit?”, Tanya Isfa panik.
“hmm..kamu yang namanya Isfa? Nico sering sekali cerita soal kamu nak. Dia tu sayang banget sama kamu.”, jawab tante.
“tante, pertanyaanku belum tante jawab. Lagian kalau Nico sayang sama Isfa, kenapa dia gak pernah nembak aku? Terus kenapa dia pergi dan sakit kayak gini gak ngabarin aku tante?”, Tanya Isfa.
“Nico sakit kanker otak stadium akhir, dan hidupnya gak akan lama lagi Fa, itulah yang menyebabkan dia seperti itu. Dia gak mau kamu sedih ngelihat dia pergi”, jawab tante. Isfa pun hanya terdiam dan membisu, tak terasa air matanya pun jatuh membasahi pipinya.
“maaf, yang namanya Isfa yang mana ya?”, Tanya dokter yang menangani Nico.
“saya dok, ada apa ya?”, sahut Isfa.
“begini nak, Nico dari tadi menyebut namamu terus, dia ingin bertemu denganmu.”, jawab dokter.
“ya dok, saya boleh masuk kan?”, Tanya Isfa.
“tentu, silahkan”, jawab dokter. Isfa pun masuk ke ruangan Nico.
“Nic, kamu tuch kenapa sich kok gak ngasih tau kalo kamu sakit? Aku tuch kuatir banget tahu gak?”, Tanya Isfa sambil menahan tangis melihat Nico terbaring lemas tak berdaya.
“aku ngelakuin ini semua karena aku gak pengen kamu sedih ngelihat aku sakit. Tapi aku Cuma pengen ngasih tahu, aku tuch sebenarnya sayang banget sama kamu. Tapi aku gak mungkin bisa bersamamu, menjagamu dan mendampingimu Fa. Maafin aku, Adit lah yang paling pantes bersamamu, bukan aku. Dengan dia hidupmu akan lebih bahagia. Please Fa, penuhi keinginanku ini. Terimalah Adit menjadi pacarmu Fa, dia sangat mencintaimu. Janji ya Fa, demi aku?”, ucap Nico memohon.
“tapi Nic, aku tuch sayangnya sama kamu, Adit tuch udah tak anggep kakakku sendiri.”, sahut Isfa.
“please Fa, kamu sayang sama aku gak? Kalau iya, tolong penuhi keinginanku satu ini Fa…”, sahut Nico memohon.
“iya Nic, demi kamu. Aku bakal ngorbanin perasaan ini. Asalkan kamu akan bahagia Nic”, jawab Isfa. Beberapa menit kemudian Nico menghembuskan nafas terakhirnya. Isfa sontak menangis dan memanggil-manggil Nico.
“Nic, bangun Nic. Kamu gak akan ninggalin aku kan?! Please bangun Nic…”, ucap Isfa sambil menangis tersedu-sedu melihat orang yang disayanginya pergi untuk selama-lamanya.
Hari demi hari terus berjalan, dan Isfa pun menepati janjinya pada Nico. Dia mengorbankan perasaannya, dan dia berusaha untuk mencintai Adit. Walaupun itu hal yang sangat sulit baginya. Tapi demi cinta, dia akan selalu berusaha berkorban.
Oleh : Islovefha
ReadFull Article ..
Pengorbanan Cinta
oleh: Islovefha
‘Isfa’ itulah nama yang selalu ada di benak Adit. Adit sangat mencintai Isfa, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkannya. Isfa adalah adik kelasnya. Setiap hari dia selalu menemani Isfa dimanapun Isfa pergi, mereka sangat akrab. Di sisi lain, Isfa sangat mencintai Nico, teman sekelasnya Adit yang jago banget balap motor. Itulah yang menyebabkan Adit tidak pernah berani mengungkapkan isi hatinya itu.

“Dit, kamu hari ini sibuk gak? Aku mau minta tolong anterin aku ke Toko Buku gak?”, Tanya Isfa.
“umm..tentu. hari ini aku lagi gak sibuk kok”, jawab Adit.
“oh iya, aku lupa dit. Hari ini aku udah ada janji sama Nico, gimana kalau kita ke Toko Bukunya besok aja? Gak pa pa kan?!”, ucap Isfa. Hal itupun membuat hati Adit tambah sakit.
“oh iya gak pa pa kok”, jawab Adit.
“tu dia Nico dah jemput aku, aku pergi dulu ya?”, ucap Isfa sambil berlalu meninggalkan Adit sendiri. Adit hanya terdiam membisu melihat orang yang sangat disayanginya pergi dengan orang lain.
***
“fa, kamu gak pa pa nie jalan sama aku?”, Tanya Nico.
“umm..emang napa kok Tanya gitu?”, sahut Isfa balik Tanya.
“gini Fa, aku tu ngelihat kamu deket banget sama Adit. Kamu pacaran ya sama dia? Aku jadi gak enak gini malah ngajak kamu jalan. Maaf ya?”, ucap Nico.
“aku sama Adit tu dah kayak kakak-adik lagi. Kita gak pacaran kok, kamu tuch aneh-aneh aja.”, jawab Isfa sambil tersenyum.
“berarti kamu jomblo donk”, Tanya Nico.
“iya, emang napa?”, jawab Isfa (berharap ditembak Nico).
“umm..sama donk kaya aku.”, jawab Nico. Yach, harapan Isfa untuk ditembak Nico lenyap sudah. Dan Isfa pun jadi sedih.
***
“hari ini kita jadi ke Toko Buku kan?”, Tanya Adit.
“aku males ach dit, aku nitip aja ya kalau kamu kesana.”, jawab Isfa.
“lho kok gitu fa? Bukane kamu kemarin yang ngajak aku? Ada apa sich kok kamu sedih gitu kelihatannya?”, Tanya Adit.
“aku sedih banget Dit, kemarin aku tuch ngarep banget Nico nembak aku. Tapi nyatanya dia gak nembak aku Dit.”, jawab Isfa sambil nangis. Adit pun tak tega melihat orang yang dicintainya itu nangis. Lalu Adit pun menuruti keinginan Isfa untuk dibelikan buku saat itu.
“makasih ya Dit, kamu emang temen aku yang paling baik”, ucap Isfa.
“ea sama-sama Fa, kamu jangan sedih lagi ya? Mungkin emang kemarin saatnya belum tepat buat dia nembak kamu.”, jawab Adit.
“iya Dit, doain aku ya supaya bisa jadian sama Nico. Kamu kan tahu Dit, aku tuch cinta banget sama dia.”, ucap Isfa.
“pasti fa.”, jawab Adit sambil menahan rasa sakit hatinya. Hatinya benar-benar sakit sekali, tapi dia selalu menutupinya dari Isfa. Dia hanya pengen orang yang dicintainya bahagia, sekalipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.
***
“Nic, aku pengen ngomong sama kamu. Penting!”, ucap Adit pada Nico.
“ada apa Dit? Serius amet?”, Tanya Nico.
“gini Nic, aku kan dah lama sahabatan sama Isfa. Aku gak mau dia sedih Nic.”, jawab Adit.
“iya, terus hubungannya apa kok kamu malah ngomong gitu ama aku?”, Tanya Nico bingung.
“Isfa tuch suka sama kamu Nic, aku pengen kamu nembak dia ya? Dia itu gadis yang baik Nic, kamu pasti suka juga kan sama dia?”, jawab Adit.
“umm.. kamu gak tahu masalahnya Dit.”, sahut Nico.
“masalah apa sich Nic?”, Tanya Adit.
“kamu tahu kenapa aku gak nembak Isfa? Tu bukan karena aku gak suka sama dia atau apa. Tapi aku ngerasa aku gak pantes buat dia, aku gak akan bisa ngebahagiain dia kayak kamu Dit. Makanya aku gak pernah nembak dia. Dan aku malah penginnya kamu yang nembak dia. Karena bersamamu masa depannya akan lebih cerah dibanding dengan aku ini”, jawab Nico.
“maksudmu apa Nic? Isfa tuch sukanya sama kamu, bukan sama aku. Jadi kamu jangan bikin dia sedih gini donk. Toh kamu juga sayang kan sama dia?”, Tanya Adit.
“gini Dit, hidupku tuch gak lama lagi. Aku punya penyakit kanker otak, dan sudah stadium akhir. Aku gak akan bisa ngebahagiain Isfa Dit, aku mohon kamu jaga dia baik-baik ya? Aku sayang banget sama dia, tapi aku gak mungkin bisa bersama dengannya. Tolong ya, kamu jangan kasih tahu semua ini ke Isfa. Dan mulai saat ini aku akan menghindar dari dia. Karena aku gak pengen dia lihat aku sakit dan lihat aku pergi.”, jawab Nico.
“jadi? Iya Nic, aku pasti akan jaga Isfa dan buat Isfa bahagia Nic. Pasti!”, sambung Adit.
“makasih ya Dit”, sahut Nico.
***
“dit, aku hari ini mau kerumahnya Nico. Kamu mau ikut gak? Ikut yach.. please….”, ucap Isfa memohon.
“iya aku ikut”, jawab Adit.
“maaf non, Den Nico sudah pindah ke luar kota. Baru aja tadi pagi berangkatnya.”, ucap pembantunya Nico. “kok mendadak sekali ya bi? Bukannya dia kemarin ikut balap motor di deket sekolah Bi?”,Tanya Isfa.
“lho gimana tho non? Den Nico itu sudah dari kemarin di Rumah Sakit, dan tadi Nyonya sudah ngambil barang-barang Den Nico. Katanya sekeluarga mau pindah ke Bandung. Dan ini katanya Den Nico masih dirawat di Rumah Sakit di Bandung.”, jawab pembantunya Nico.
“apa? Gak mungkin bi, gak mungkin kan Dit?”, ucap Isfa tak percaya. Adit hanya diam, lalu mereka pergi ke Bandung untuk melihat keadaan Nico.
***
“tante, saya Isfa tan. Gimana keadannya Nico tante? Kok dia gak pernah cerita kalau dia sakit?”, Tanya Isfa panik.
“hmm..kamu yang namanya Isfa? Nico sering sekali cerita soal kamu nak. Dia tu sayang banget sama kamu.”, jawab tante.
“tante, pertanyaanku belum tante jawab. Lagian kalau Nico sayang sama Isfa, kenapa dia gak pernah nembak aku? Terus kenapa dia pergi dan sakit kayak gini gak ngabarin aku tante?”, Tanya Isfa.
“Nico sakit kanker otak stadium akhir, dan hidupnya gak akan lama lagi Fa, itulah yang menyebabkan dia seperti itu. Dia gak mau kamu sedih ngelihat dia pergi”, jawab tante. Isfa pun hanya terdiam dan membisu, tak terasa air matanya pun jatuh membasahi pipinya.
***
“maaf, yang namanya Isfa yang mana ya?”, Tanya dokter yang menangani Nico.
“saya dok, ada apa ya?”, sahut Isfa.
“begini nak, Nico dari tadi menyebut namamu terus, dia ingin bertemu denganmu.”, jawab dokter.
“ya dok, saya boleh masuk kan?”, Tanya Isfa.
“tentu, silahkan”, jawab dokter. Isfa pun masuk ke ruangan Nico.
“Nic, kamu tuch kenapa sich kok gak ngasih tau kalo kamu sakit? Aku tuch kuatir banget tahu gak?”, Tanya Isfa sambil menahan tangis melihat Nico terbaring lemas tak berdaya.
“aku ngelakuin ini semua karena aku gak pengen kamu sedih ngelihat aku sakit. Tapi aku Cuma pengen ngasih tahu, aku tuch sebenarnya sayang banget sama kamu. Tapi aku gak mungkin bisa bersamamu, menjagamu dan mendampingimu Fa. Maafin aku, Adit lah yang paling pantes bersamamu, bukan aku. Dengan dia hidupmu akan lebih bahagia. Please Fa, penuhi keinginanku ini. Terimalah Adit menjadi pacarmu Fa, dia sangat mencintaimu. Janji ya Fa, demi aku?”, ucap Nico memohon.
“tapi Nic, aku tuch sayangnya sama kamu, Adit tuch udah tak anggep kakakku sendiri.”, sahut Isfa.
“please Fa, kamu sayang sama aku gak? Kalau iya, tolong penuhi keinginanku satu ini Fa…”, sahut Nico memohon.
“iya Nic, demi kamu. Aku bakal ngorbanin perasaan ini. Asalkan kamu akan bahagia Nic”, jawab Isfa. Beberapa menit kemudian Nico menghembuskan nafas terakhirnya. Isfa sontak menangis dan memanggil-manggil Nico.
“Nic, bangun Nic. Kamu gak akan ninggalin aku kan?! Please bangun Nic…”, ucap Isfa sambil menangis tersedu-sedu melihat orang yang disayanginya pergi untuk selama-lamanya.
Hari demi hari terus berjalan, dan Isfa pun menepati janjinya pada Nico. Dia mengorbankan perasaannya, dan dia berusaha untuk mencintai Adit. Walaupun itu hal yang sangat sulit baginya. Tapi demi cinta, dia akan selalu berusaha berkorban.
Oleh : Islovefha
Minggu, 08 Desember 2013
Cerpen Sedih Pedih Yang Tak Pernah Usai
Pedih Yang Tak Pernah Usai
Cerpen Sedih oleh Maya Winandra Nova
Jika aku boleh berteriak di tengah malam, maka akan ku teriakan seluruh suara yang terkumpul untuk melepas apa yang aku rasakan sungguh menyiksa, tetapi itu tak mungkin bisa aku lakukan karena begitu menentang kelamnya malam. Kadang ku berpikir hidup tak adil tuk ku jalani, teringat masa di saat ku harus jatuh dan jatuh lagi dan aku harus bangkit lagi dan bangkit tanpa ada yang tau tenang begitu kejam yang aku rasakan. Sakit terus dan sakit yang aku dapat. Gimana aku harus bisa mempertahankan senyumku jika sakit itu terus datang bertubi-tubi tak henti. Bagaimana aku bisa tertawa saat ku lemah dengan keadaan? Aku tak tau apa yang terjadi dalam hidupku ini. Air mata yang keluar dari kedua belah mataku seakan tak berarti dan tak berguna sama sekali. Tapi itu yang aku bisa lakukan saat ini, meratapi kisah hidupku yang harus gagal dan gagal lagi tuk ku pertahankan.
Sejenak ku berpikir, aku sudah gak sanggup lagi dengan keadaan ini, tapi aku harus bisa apa. Menangis, bersedih, menyesal, terpuruk atau terabaikan. . .? Secara garis keluarga aku termasuk tak begitu nampak raut kesedihan yang melandaku. Canda tawa seakan ku jadikan topeng buat hidupku. Ketegaran yang seakan-akan begitu menyiksa di mana ketegaran itu adalah bohong. Ku mencoba tegar dan kuat di manapun aku berada. Apakah aku harus mengeluh dan mengeluh lagi, menyesal dan menyesal lagi, terpuruk dan jatuh tak bisa bangkit lagi.? Aku juga tak tau akan hal itu kapan akan berakhir....
Ya Allah aku sudah gak sanggup dengan permainan dunia ini yang begitu menyiksa ku dan hidupku. Kenapa Engkau berikan cobaan terus menerus kepada diriku. . .? Sampai kapan aku harus menanggung rasa sakit dan kecewa akan patah hati tuk yang kesekian kalinya. Jika dia bukan untukku, kenapa Engkau memilihkan dia untuk aku? Kenapa mesti dia yang Engkau kirimkan tuk melukai hatiku ini? Engkau yang mengirimkannya untukku, tapi Engkau pula yang mengambil dia lagi diriku? Kenapa terus begini yang aku rasakan setelah semua harapan yang di berikan harus sirna di depan mataku ini? Ya Allah sungguh ku tak tau permainan apa lagi yang mengujiku saat ini. Jatuh dan terluka begitu menghiasi dalam hidupku. Ibarat penghias hidupku. Aku tak tau lagi bagaimana harus ku jalani hidup ini. Maju atau kah mundur?
Hampa dan bingung yang ku rasaka. Aku sungguh gak kuat atas apa yang Engkau berikan kepadaku saat ini. Ingin ku mengakhiri hidup ini tapi aku tak kuat melihat keluargaku kelak. Aku bingung dan terus dalam kebingungan. Aku sakit terus berada dalam kekecewaan dan akhirnya ku mengeluh dan mengeluh lagi. Hidupku kini tak ada artinya lagi. percuma ku simpan senyum jika mesti sakit yang harus terima.
Harapanku sia-sia saja, penantianku akhirnya percuma saja. Jika waktu bisa terulang kembali, aku tak ingin merasakanya yang begitu amat menyiksaku saat ini. Aku benar-benar terjatuh dari sebuah jurang yang curam yang mana penuh dengan hiruk pikuk duri yang akan mencabik-cabik tubuhku hinggap hancur tak tersisa. Aku seakan tak punya semangat tuk menjalani hidup ini.
Engkau berikan aku harapan dan Engkau pula yang menghancurkan harapan itu. Apakah belum puas sudah yang harus ku derita ini? Jika Engkau memang adil, maka jangan jauhkan harapan itu lagi untuk diriku. Memang banyak sangat kesalahan yang aku lakukan tapi kesalahan itu jangan Engkau tukar dengan harapan yang telah Engkau berikan yang hanya sesaat saja.
Aku ingin bebas dan aku ingin lepas dari semua ini. Aku udah gak sanggup
Sungguh tak sanggup lagi
Ya Allah jangan terus Engkau menghukum aku dengan keadaan ini dan terus menghujam aku dengan hal-hal seperti ne.
Biarkan aku meminta hal kecil ini. Ku berharap hal kecil ne menjadi hal terbesarku kelak.
Tak banyak yang ku minta, hanya harapan ini Ya Allah, tak ada yang lain tuk saat ini.
Aku ingin menghabiskan semua ini bersama nya
Tenangkan lah diriku ini tuk menjalani semua ini.
Berikan kesabaran dan keikhlasan yang sangat untuk menopang hidupku kedepan.
Lindungi dirinya yang sangat aku harapan, jauhkan hal buruk yang menimpanya dan pikiran yang jernih serta mertakan kepadanya.
Aku tak ingin terus mengeluh jika Engkau tak menghukumku begini.
Dengarkan ku yang sederhana ini Ya Allah.
Tiada yang bisa menolongku kecuali Engkau saat ini.
Tak ada harapan yang terbesarku selain mengharapkannya dari Diri-Mu Ya Allah.
Berkatilah setiap langkahku dan langkahnya tuk hidup ini, Amin Amin Ya Robbal Alamin.
By Maya Winandra Nova
ReadFull Article ..
Cerpen Sedih oleh Maya Winandra Nova
Jika aku boleh berteriak di tengah malam, maka akan ku teriakan seluruh suara yang terkumpul untuk melepas apa yang aku rasakan sungguh menyiksa, tetapi itu tak mungkin bisa aku lakukan karena begitu menentang kelamnya malam. Kadang ku berpikir hidup tak adil tuk ku jalani, teringat masa di saat ku harus jatuh dan jatuh lagi dan aku harus bangkit lagi dan bangkit tanpa ada yang tau tenang begitu kejam yang aku rasakan. Sakit terus dan sakit yang aku dapat. Gimana aku harus bisa mempertahankan senyumku jika sakit itu terus datang bertubi-tubi tak henti. Bagaimana aku bisa tertawa saat ku lemah dengan keadaan? Aku tak tau apa yang terjadi dalam hidupku ini. Air mata yang keluar dari kedua belah mataku seakan tak berarti dan tak berguna sama sekali. Tapi itu yang aku bisa lakukan saat ini, meratapi kisah hidupku yang harus gagal dan gagal lagi tuk ku pertahankan.

Ya Allah aku sudah gak sanggup dengan permainan dunia ini yang begitu menyiksa ku dan hidupku. Kenapa Engkau berikan cobaan terus menerus kepada diriku. . .? Sampai kapan aku harus menanggung rasa sakit dan kecewa akan patah hati tuk yang kesekian kalinya. Jika dia bukan untukku, kenapa Engkau memilihkan dia untuk aku? Kenapa mesti dia yang Engkau kirimkan tuk melukai hatiku ini? Engkau yang mengirimkannya untukku, tapi Engkau pula yang mengambil dia lagi diriku? Kenapa terus begini yang aku rasakan setelah semua harapan yang di berikan harus sirna di depan mataku ini? Ya Allah sungguh ku tak tau permainan apa lagi yang mengujiku saat ini. Jatuh dan terluka begitu menghiasi dalam hidupku. Ibarat penghias hidupku. Aku tak tau lagi bagaimana harus ku jalani hidup ini. Maju atau kah mundur?
Hampa dan bingung yang ku rasaka. Aku sungguh gak kuat atas apa yang Engkau berikan kepadaku saat ini. Ingin ku mengakhiri hidup ini tapi aku tak kuat melihat keluargaku kelak. Aku bingung dan terus dalam kebingungan. Aku sakit terus berada dalam kekecewaan dan akhirnya ku mengeluh dan mengeluh lagi. Hidupku kini tak ada artinya lagi. percuma ku simpan senyum jika mesti sakit yang harus terima.
Harapanku sia-sia saja, penantianku akhirnya percuma saja. Jika waktu bisa terulang kembali, aku tak ingin merasakanya yang begitu amat menyiksaku saat ini. Aku benar-benar terjatuh dari sebuah jurang yang curam yang mana penuh dengan hiruk pikuk duri yang akan mencabik-cabik tubuhku hinggap hancur tak tersisa. Aku seakan tak punya semangat tuk menjalani hidup ini.
Engkau berikan aku harapan dan Engkau pula yang menghancurkan harapan itu. Apakah belum puas sudah yang harus ku derita ini? Jika Engkau memang adil, maka jangan jauhkan harapan itu lagi untuk diriku. Memang banyak sangat kesalahan yang aku lakukan tapi kesalahan itu jangan Engkau tukar dengan harapan yang telah Engkau berikan yang hanya sesaat saja.
Aku ingin bebas dan aku ingin lepas dari semua ini. Aku udah gak sanggup
Sungguh tak sanggup lagi
Ya Allah jangan terus Engkau menghukum aku dengan keadaan ini dan terus menghujam aku dengan hal-hal seperti ne.
Biarkan aku meminta hal kecil ini. Ku berharap hal kecil ne menjadi hal terbesarku kelak.
Tak banyak yang ku minta, hanya harapan ini Ya Allah, tak ada yang lain tuk saat ini.
Aku ingin menghabiskan semua ini bersama nya
Tenangkan lah diriku ini tuk menjalani semua ini.
Berikan kesabaran dan keikhlasan yang sangat untuk menopang hidupku kedepan.
Lindungi dirinya yang sangat aku harapan, jauhkan hal buruk yang menimpanya dan pikiran yang jernih serta mertakan kepadanya.
Aku tak ingin terus mengeluh jika Engkau tak menghukumku begini.
Dengarkan ku yang sederhana ini Ya Allah.
Tiada yang bisa menolongku kecuali Engkau saat ini.
Tak ada harapan yang terbesarku selain mengharapkannya dari Diri-Mu Ya Allah.
Berkatilah setiap langkahku dan langkahnya tuk hidup ini, Amin Amin Ya Robbal Alamin.
By Maya Winandra Nova
Langganan:
Postingan (Atom)