Tampilkan postingan dengan label energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label energi. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Oktober 2013

Energi Biomassa Solusi Jitu Atasi Krisis BBM

Pemilihan energi biomassa yang bersumber dari tumbuhan, menjadi solusi jitu untuk mengatasi krisis energi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas bumi yang saat ini melanda Indonesia maupun dunia.

Guru besar Fakultas Teknik di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Dr. Ir. Bambang Pramudono, M.S. di Semarang, Minggu, mengatakan bahwa masyarakat tidak bisa terus-menerus menggantungkan sumber energi minyak dan gas bumi, karena cadangannya terus merosot, sehingga harus digantikan sumber energi berkelanjutan seperti biomassa.

Menurut dia, Indonesia saat ini memang masih menjadi anggota negara-negara pengekspor minyak (OPEC), namun secara riil sudah menjadi pengimpor, karena produksinya lebih sedikit dibandingkan kebutuhannya.

"Produksi minyak Indonesia kini sekitar satu juta barel per hari, tetapi kebutuhannya mencapai 1,3 juta barel sehingga kekurangan 300.000 barel harus dipenuhi dari impor," kata Bambang yang pekan lalu dikukuhkan menjadi guru besar Fakultas Teknik Undip Semarang.

Ia mengatakan, cadangan minyak Indonesia tinggal sekitar 0,5 persen dari cadangan minyak dunia, sedangkan cadangan gas sekitar 1,7 persen dari cadangan dunia.

"Diperkirakan 18 tahun yang akan datang minyak akan habis dan 50 tahun kemudian cadangan gas habis juga bila tidak ditemukan sumber baru," katanya.

Menurut dia, yang lebih memprihatinkan, meski cadangan gas Indonesia hanya 1,7 persen dari cadangan gas dunia, negeri ini menjadi pengekspor gas bumi nomor satu di dunia dengan volume sekitar 25 juta ton per tahun.

"Tentu saja cadangan gas ini segera akan habis karena kita terus mengambilnya untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor," katanya.

Ia mengingatkan, karena cadangan minyak dan gas bumi Indonesia makin menipis dan diperkirakan dalam beberapa dasa warsa mendatang habis, maka tidak ada pilihan lain kecuali mencari sumber energi alternatif, yaitu energi biomassa.

Kekayaan alam Indonesia menjadi pertimbangan utama konversi energi minyak dan gas ke biomassa. Indonesia merupakan negara agraris terbesar yang akan mampu memasok sumebr bahan baku biomassa, baik dari budidaya hayati maupun limbah pertanian, perkebunan, peternakan, dan perkebunan.

Menurut dia, energi biomassa juga ramah lingkungan dan secara teknis penggunaan energi biomassa juga bisa dikombinasikan dengan batubara.

"Perlu komitmen kuat dari masyarakat, industri, lembaga penelitian, dan pemerintah, agar program konversi energi biomassa ini bisa sukses," demikian Bambang. (*)

Sumber : http://www.antaranews.com/

ReadFull Article ..

Kamis, 17 Oktober 2013

Energi alternatif terbarukan sel surya

Menipisnya cadangan sumber daya fosil, khususnya minyak bumi, dewasa ini membuat manusia harus berpikir untuk menggunakan energi alternatif yang terbarukan, seperti tenaga surya, angin, biomassa, panas bumi, dan sebagainya.

Salah satu yang kini banyak jadi pilihan adalah tenaga surya.

Sejak beberapa dekade terakhir, energi surya telah dimanfaatkan di berbagai negara. Jika dieksploitasi dengan tepat, energi surya diprediksi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia.

Energi surya memiliki kelebihan, yakni dapat digunakan secara gratis dari alam, serta bebas CO2 sehingga ramah lingkungan. Dengan kondisi iklim tropis yang mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, Indonesia juga berpotensi menghasilkan energi surya yang signifikan.

Sel tenaga surya adalah sebuah alat semikonduktor yang mampu mengubah sinar matahari menjadi energi listrik. Pengubahan ini disebut efek photovoltaic.

Pembangkit listrik tenaga surya adalah metode kompetitif dengan yang konvensional karena memiliki usia yang cukup panjang dalam penggunaannya, tidak ada bahan bakar yang dibutuhkan, rendah biaya operasional dan cepat dalam penginstalasiannya.

Jika diasumsikan, biaya tenaga surya akan cukup rendah setelah penyusutan. Demikian penjelasan Hiroshi Morimoto dari Sharp Corporation Japan. “Penggunaan modul photovoltaic secara luas, dapat mencegah perubahan iklim yang disebabkan oleh global warming,” imbuh Hiroshi.

Cara kerja
Cara kerja sistem pembangkit listrik tenaga surya, kata Hiroshi, menggunakan grid-connected panel sel surya photovoltaic. Modul sel surya photovoltaic mengubah energi surya menjadi arus listrik DC. Arus listrik DC yang dihasilkan ini akan dialirkan melalui inverter (pengatur tenaga) yang mengubahnya menjadi arus listrik AC, yang secara otomatis juga akan mengatur seluruh sistem.

Listrik AC akan didistribusikan melalui panel distribusi indoor yang akan mengalirkan listrik sesuai kebutuhan alat elektronik (televisi, radio, AC, dan lain-lain). Besar dan biaya konsumsi listrik yang dipakai akan diukur oleh Watt-Hour Meters.

Kelebihan
Menurut Hiroshi, penggunaan photovoltaic memiliki beberapa kelebihan jika dibanding dengan pembangkit tenaga listrik lain, yakni:
• bersih dan bebas polusi
• beroperasi tanpa ada bagian yang perlu dibongkar pasang
• menghasilkan listrik tanpa suara
• hampir tidak memerlukan perawatan
• listrik yang dihasilkan dapat dipergunakan untuk keperluan apapun dan dimanapun, tidak perlu investasi besar ataupun pengecekan keamanan seperti industri nuklir
• tidak memerlukan biaya transportasi seperti minyak, batubara, uranium dan plutonium
• awet dan tahan lama (bisa mencapai 25 tahun).

Sumber : http://hendradwi-pjb.web.id/
ReadFull Article ..